Selasa, 18 Agustus 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN
Penelitian Berita Pilihan

Menyusuri Jejak, Ketika Wajo dan Bone Bicara tentang Singapura oleh Seorang Pelaut dan Pedagang Bugis bernama Daeng Paduppa

849 tampilan 5 mnt baca Sumber: Humas UMI
Pembacaan Manuskrip Daeng Paduppa

Rujukan utama mereka adalah manuskrip Daeng Paduppa, sebuah naskah kuno yang mencatat perjalanan masyarakat Bugis dari Wajo hingga ke Singapura. Berbekal manuskrip itu sebagai peta, tim menyasar titik demi titik yang disebutkan di dalamnya, sekaligus menemui para tokoh adat yang masih menyimpan ingatan kolektif tentang masa itu.

Di bawah terik Juli, sebuah tim kecil menyusuri jalan-jalan Wajo dan Bone dengan satu tujuan, menghidupkan kembali jejak yang ditulis ratusan tahun lalu oleh seorang pedagang sekaligus pelaut Bugis bernama Daeng Paduppa. Selama tiga hari, 22–24 Juli 2026, mereka mendatangi kampung-kampung tua, pelabuhan sungai yang nyaris terlupakan, dan bangunan bersejarah yang dinding-dindingnya masih menyimpan cerita kejayaan sebuah kerajaan.

Ini bukan sekadar perjalanan wisata sejarah. Ini adalah penelusuran ilmiah yang dilakukan Tim Peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) bersama National University of Singapore (NUS), untuk membuktikan satu hal bahwa hubungan antara masyarakat Bugis dan Singapura bukan legenda kosong, melainkan jalur pelayaran, perdagangan, dan migrasi yang pernah benar-benar hidup.

Rujukan utama mereka adalah manuskrip Daeng Paduppa, sebuah naskah kuno yang mencatat perjalanan masyarakat Bugis dari Wajo hingga ke Singapura. Berbekal manuskrip itu sebagai peta, tim menyasar titik demi titik yang disebutkan di dalamnya, sekaligus menemui para tokoh adat yang masih menyimpan ingatan kolektif tentang masa itu.

Tim ini digawangi oleh peneliti JK Research Center UMI, Prof. Dr. Ir. H. Muh. Hattah Fattah, M.S., dan Prof. Dr. Muhammad Yunus, S.S., M.Pd. Dari NUS, hadir Dr. Mohamed Effendy bin Abdul Hamid, Senior Lecturer di Departemen Studi Asia Tenggara. Kemudian Gunawan Songki, SS, M.Sos, Muhammad Adnan, SKom, dari tim dokumenter UMI.

Bercerita dengan Dua Tokoh Adat di Sengkang

Perjalanan dimulai di Kota Sengkang. Di sana, tim duduk berhadapan dengan dua sosok yang selama ini menjaga ingatan sejarah Wajo tetap hidup.

Yang pertama adalah Drs. Sudirman Sabang, MH, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wajo, sekaligus Ketua Yayasan Budaya Wajo. Sebagai pemerhati sejarah Wajo, ia menjadi salah satu narasumber kunci yang memahami detail-detail kecil yang jarang tercatat dalam buku.

Yang kedua adalah Andi Rahmat Munawar, S.Sos, M.Si, budayawan ternama Sengkang dan penulis buku To Ugi, karya yang mengupas kehidupan, tradisi, sistem kepercayaan, hingga siklus hidup orang Bugis dari lahir sampai kematian.

Dari kedua percakapan mendalam ini, tim UMI-NUS berhasil mendokumentasikan sejumlah informasi penting yang akan menjadi video dokumenter.

Pallime, Ketika Sungai Menjadi Jalan Menuju Dunia

Dari Sengkang, tim bergerak menuju satu titik yang disebut penting dalam jalur pelayaran Daeng Paduppa, Desa Pallime, di Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone.

Desa ini punya keunikan geografis yang, menurut manuskrip, dulunya menjadikannya sangat strategis. Pallime memiliki river port atau pelabuhan sungai, pintu keluar hasil bumi dari tiga kerajaan besar di sekitar Sungai Cenrana. Dari sinilah komoditas diangkut lalu dipindahkan ke kapal-kapal besar yang berlayar jauh ke Ujung Pandang (Makassar) melalui selat Bone dan Bantaeng.

Ketika Dg. Paduppa tiba di Ujung Pandang, ia tidak sekadar memasuki pelabuhan, tetapi memasuki jaringan perdagangan maritim Asia Tenggara. Ujung Pandang menjadi ruang transisi antara ekonomi lokal (Wajo, Bone, dan daerah sekitarnya) dan dunia perdagangan nasional dan bahkan internasional yang terhubung dengan berbagai wilayah seperti, kalimantan, jawa, Riau-Lingga, Melaka, Johor, Singapura.

Kini, yang tersisa hanyalah bekas river port, aliran Sungai Cenrana yang masih mengalir tenang, dan pasar Pallime yang meski sederhana, seakan masih menyimpan bayang-bayang kebesaran masa lalu masyarakat Bugis.

Geddong-nge Tosora, Brankas Kerajaan yang Membisu

Perjalanan berlanjut kembali ke arah Sengkang, menuju Desa Tellulimpoe, Kecamatan Majauleng, Wajo. Di sana berdiri Geddong-nge Tosora, salah satu tempat penting yang disebut dalam manuskrip Daeng Paduppa.

Geddong dikenal sebagai situs bersejarah yang menjadi simbol kejayaan Kerajaan Wajo. Tempat ini menjadi pusat pemerintahan, sekaligus tempat penyimpanan logistik, pusaka, dan persenjataan kerajaan. Semacam brankas besar yang menjaga kekayaan dan kekuatan Wajo pada masanya.

Saat tim tiba, yang tersisa dari kejayaan itu adalah cagar budaya dengan dinding-dinding yang kini terbuka tanpa atap, serta sebuah meriam tua yang dulu mungkin pernah menjaga wilayah ini dari ancaman luar. Diam, tapi masih berdiri sebagai saksi.

Ziarah Makam Raja-raja Wajo

Tak jauh dari Geddong-nge, masih di kawasan Tosora, tim juga menyempatkan diri berziarah ke Makam Raja Wajo di Kompleks Makam Subang Arong Matowa XXIII di Desa Tosora, Kecamatan Majauleng, Wajo. Kompleks pemakaman ini menjadi tempat bersemayamnya para raja dan bangsawan yang pernah memimpin Kerajaan Wajo pada masa kejayaannya.

Bagi tim peneliti, kunjungan ini bukan sekadar ziarah, melainkan bagian penting dari upaya menelusuri jejak kekuasaan dan legitimasi kerajaan yang dahulu menjadi motor di balik jaringan pelayaran dan perdagangan Bugis, jaringan yang sama yang kelak membawa nama Wajo hingga ke Singapura.

Nisan-nisan tua yang berdiri berjajar di kompleks ini seolah menjadi penegas bahwa kisah dalam manuskrip Daeng Paduppa bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan bagian dari sejarah panjang sebuah kerajaan yang pernah berjaya.

Parepare, Titik Akhir yang Menatap Laut

Penelusuran ini akhirnya berlabuh di Kota Parepare, menjadi titik penutup dari rangkaian pendokumentasian hubungan Bugis-Singapura. Di kota pesisir ini, tim mendatangi Pantai Lumpue dan Pelabuhan Rakyat Lakessi, dua tempat yang juga tercatat dalam manuskrip Daeng Paduppa.

Berdiri di tepi pantai, memandang laut yang sama yang dulu dilayari para pelaut Bugis menuju Singapura, perjalanan tiga hari ini pun menemukan maknanya bahwa jalur yang ditulis Daeng Paduppa berabad-abad lalu ternyata masih bisa ditelusuri, dibaca ulang, dan dihidupkan kembali, bukan hanya di atas kertas, tapi di tanah dan air yang masih menyimpan jejaknya.
G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.