Rabu, 9 September 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN

Mengenang Kisah Halimah Sa’diyah, Perempuan Bani Sa'd bin Bakr yang Susunya Membesarkan Rasulullah SAW

129 tampilan 4 mnt baca Sumber: Humas UMI
Ilustrasi Halimah As-Sa’diyah, Ibu Susuan Rasulullah Muhammad SAW

“Barangkali Allah memberikan keberkahan melalui anak ini,” menjadi semangat yang menggambarkan keputusan tersebut dalam kisah sirah.

Mekkah Tidak ada yang menyangka bahwa seorang bayi yatim yang sempat ditolak para perempuan Bani Sa’d justru akan membawa keberkahan besar bagi keluarga yang menerimanya.

Bayi itu adalah Muhammad bin Abdullah SAW, yang kelak menjadi Nabi dan Rasul terakhir. Sementara perempuan yang dengan penuh kasih merawat dan menyusuinya adalah Halimah As-Sa’diyah, seorang perempuan dari Bani Sa’d bin Bakr.

Kisah Halimah menjadi salah satu bagian mengharukan dalam perjalanan masa kecil Rasulullah SAW. Ia datang ke Mekkah bersama perempuan-perempuan lain untuk mencari bayi yang dapat mereka susui.

BACA JUGA
Penyintas Gempa NTT, Alfensius: Kami Sudah Tak Merasa Sendiri Setelah Relawan UMI Datang
Bedah PP No. 20/2026, Direktur Eksekutif TLC UMI: Pajak UMKM Wajib Berpijak pada Keadilan dan Kepastian Hukum

Pada masa itu, menyusui bayi keluarga Mekkah merupakan salah satu sumber penghasilan bagi perempuan-perempuan pedalaman.

Namun, ketika mengetahui bahwa Muhammad SAW adalah seorang anak yatim, Halimah dan perempuan lainnya sempat enggan menerimanya. Mereka khawatir tidak mendapatkan imbalan yang memadai karena ayah Muhammad telah wafat.

Hampir semua perempuan yang datang akhirnya mendapatkan bayi untuk diasuh. Halimah sendiri belum memperoleh bayi.

Dalam keadaan tidak memiliki pilihan lain, suaminya menyarankan agar ia membawa Muhammad SAW.

“Barangkali Allah memberikan keberkahan melalui anak ini,” menjadi semangat yang menggambarkan keputusan tersebut dalam kisah sirah. Halimah pun menerima Muhammad SAW.

Dan sejak saat itu, berbagai kisah tentang keberkahan mulai menyertai keluarganya.

Air Susu yang Tiba-Tiba Berlimpah

Sebelum membawa Muhammad SAW, Halimah menghadapi kesulitan. Kendaraannya lemah, sementara air susu yang dimilikinya sangat sedikit. Bayinya sendiri sering menangis karena kelaparan.

Namun setelah Muhammad SAW berada dalam asuhannya, Halimah mengisahkan perubahan yang luar biasa.

Air susunya menjadi deras sehingga ia dapat menyusui Muhammad SAW dan anak kandungnya hingga keduanya merasa kenyang.

Dalam riwayat sirah, keadaan tersebut menjadi salah satu tanda keberkahan yang dirasakan Halimah setelah menerima bayi Muhammad.

Bagi Halimah, keputusan yang semula dilakukan karena tidak ada pilihan lain justru berubah menjadi sesuatu yang sangat ia syukuri.

Keledai yang Semula Lemah Menjadi yang Terdepan

Keberkahan itu, menurut kisah yang diriwayatkan dalam literatur sirah, tidak hanya dirasakan dari air susu.

Ketika perjalanan pulang dimulai, keledai yang ditunggangi Halimah sebelumnya digambarkan kurus dan lemah. Bahkan, hewan itu disebut berjalan paling lambat dibandingkan rombongan lainnya.

Namun setelah membawa Muhammad SAW, keledai tersebut dikisahkan berubah menjadi sangat kuat dan mampu melaju cepat.

Halimah bahkan sampai membuat perempuan-perempuan lain keheranan karena tunggangannya dapat mendahului rombongan.

Perjalanan yang sebelumnya dipenuhi kesulitan pun terasa berbeda.

Ternak yang Mendadak Menghasilkan Banyak Susu

Kisah keberkahan berlanjut setelah Halimah dan keluarganya tiba di perkampungan Bani Sa’d.

Dalam riwayat sirah, ternak milik keluarga Halimah yang sebelumnya kurus disebut mulai menjadi gemuk dan menghasilkan banyak susu.

Kondisi tersebut membuat keluarga Halimah dapat menikmati kecukupan yang sebelumnya sulit mereka rasakan.

Sementara ternak milik orang lain di sekitarnya tidak mengalami keadaan serupa, ternak Halimah justru digambarkan pulang dalam keadaan kenyang dan menghasilkan susu yang lebih banyak.

Keadaan itu menjadi sesuatu yang menarik perhatian masyarakat di sekitarnya.

Dari Bayi Yatim Menjadi Sumber Keberkahan

Halimah mungkin tidak pernah membayangkan bahwa bayi yang awalnya ia khawatirkan tidak memberikan keuntungan justru menjadi sosok yang sangat ia cintai.

Muhammad SAW tinggal bersama keluarga Halimah di perkampungan Bani Sa’d selama beberapa tahun. Di lingkungan pedesaan itulah beliau tumbuh dalam suasana yang lebih sehat dan jauh dari hiruk-pikuk Mekkah.

Kisah Halimah bukan sekadar cerita tentang perubahan keadaan ekonomi sebuah keluarga.

Lebih dari itu, kisah tersebut sering dikenang sebagai pelajaran tentang keberkahan yang terkadang datang melalui sesuatu yang awalnya tidak kita inginkan.

Halimah datang ke Mekkah dengan harapan mendapatkan bayi yang dapat memberikan penghasilan. Ia justru mendapatkan seorang bayi yatim yang sempat ditolak karena dianggap tidak akan memberikan imbalan.

Namun bayi itu adalah Muhammad SAW.

Keputusan yang awalnya dilakukan karena keterpaksaan kemudian dikenang sebagai salah satu keputusan paling berharga dalam hidup Halimah.

Dari seorang bayi yatim yang tidak diinginkan para ibu susuan, tumbuh seorang manusia yang kelak menjadi Rasulullah SAW, pembawa risalah Islam bagi seluruh umat manusia.
G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.