Manggarai, umi.ac.id — Malam itu, warga Desa Lalong, Kecamatan Waeri’i, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di lokasi pengungsian. Sebagian tinggal di tenda, sementara sebagian lainnya menempati rumah adat yang difungsikan sebagai posko.
Kondisi tersebut berlangsung setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7,dan beberapa gempa susulan mengguncang Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan dan sebagian keluarga memilih belum kembali karena masih khawatir terhadap gempa susulan.
Di tengah kondisi tersebut, Tim Relawan Medis Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar datang ke Desa Lalong pada Senin malam, 24 Agustus 2026.

Kedatangan tim tidak hanya membawa pelayanan kesehatan dan bantuan kebutuhan pengungsian. Bagi warga, kunjungan tersebut juga menjadi bentuk perhatian dari pihak luar daerah terhadap kondisi mereka.
“Sejak kemarin kami dapat informasi bahwa bapak mau kunjung ke sini, kami sudah tidak merasa sendiri,” kata Alfensius Nampar saat menyambut rombongan relawan.
Alfensius mengatakan, kedatangan relawan UMI merupakan kunjungan pertama yang secara langsung melihat kondisi warga di kampung mereka.
“Sudah datang jauh-jauh dari Makassar ingin melihat situasi dan kondisi kami di sini. Terus terang ini kunjungan pertama ada kepedulian bagi kampung kami,” ujarnya.
Menurut Alfensius, sebanyak 72 rumah di Desa Lalong mengalami kerusakan berat. Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus meninggalkan rumah dan sementara waktu tinggal di lokasi pengungsian.
78 Warga Dapat Pelayanan Kesehatan
Tim Relawan Medis UMI dipimpin Wakil Rektor II UMI, Prof. Dr. Ir. H. Zakir Sabara HW., S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., bersama relawan medis UMI, AMDA, AR7 Team, Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI, dan KAHMI Manggarai NTT.

Pelayanan kesehatan dilakukan di posko pengungsian. Warga datang secara bergantian untuk mendapatkan pemeriksaan.
Tim medis yang diketuai dr. Berry Erida Hasbi, Sp.B., mencatat sebanyak 78 warga mendapatkan pelayanan kesehatan. Mereka terdiri atas tujuh anak-anak, 40 orang dewasa, dan 31 lansia.
Sejumlah keluhan yang ditemukan antara lain flu, demam, dan tekanan darah tinggi.
Selain pemeriksaan kesehatan, relawan juga memberikan obat sesuai kebutuhan pasien.
Pelayanan tersebut menjadi bagian dari misi kemanusiaan yang dilakukan UMI bersama sejumlah mitra untuk membantu masyarakat terdampak gempa di Manggarai.
Bantuan Tenda dan Selimut
Selain pelayanan medis, tim juga menyalurkan bantuan berupa tenda, selimut, dan sejumlah kebutuhan dasar bagi warga yang masih berada di pengungsian.
Saat menyerahkan bantuan, Prof. Zakir Sabara menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian dan persaudaraan.
“Jangan dilihat apa yang kami bawa. Ini hanya simbol persaudaraan. Kita semua bersaudara,” ujarnya.
Ia juga berharap kondisi warga segera membaik sehingga masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing.
“Mudah-mudahan bapak dan ibu semua tidak mengalami gempa lagi dan bisa segera kembali ke rumah masing-masing,” katanya.
Bagi warga Desa Lalong, kebutuhan setelah bencana masih cukup besar. Selain tempat tinggal sementara, pelayanan kesehatan dan kebutuhan dasar masih diperlukan selama masyarakat belum dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.
BACA JUGA:
Launching Brevet AB, TLC UMI Sepakat Kerja Sama dengan Kanwil DJP Sulselbartra
#Pray for Kalimantan, Karhutla: 2348 Titik Panas dan 8750 Kasus Ispa, Masih Terus Meningkat?
Dari Makassar untuk Pengabdian
Tim Relawan Medis UMI dan AMDA telah berada di wilayah terdampak gempa selama beberapa hari. Mereka berangkat dari Makassar pada 20 Agustus 2026 setelah dilepas Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, S.H., M.H.
Kehadiran relawan tersebut merupakan bagian dari semangat UMI sebagai Kampus Perjuangan dan Pengabdian serta Kampus Peduli dan Berbagi.
Bagi UMI, pengabdian kepada masyarakat merupakan bagian dari Catur Dharma UMI yang mencakup Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, serta Komitmen Ke-UMI-an dan Pendidikan Karakter.
Melalui misi kemanusiaan ini, tenaga kesehatan dan relawan UMI membawa kompetensi yang dimiliki untuk membantu masyarakat terdampak bencana.
Di Desa Lalong, kehadiran tersebut setidaknya memberikan dua hal yakni pelayanan yang dibutuhkan warga dan perhatian terhadap kondisi mereka.
Bagi Alfensius, perhatian itu memiliki arti tersendiri.
“Kami sudah tidak merasa sendiri.”
Kalimat tersebut menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana kehadiran relawan dapat memberi dukungan kepada masyarakat yang masih menghadapi dampak bencana.