Seorang bocah kelas 6 SD di dukuh terpencil Boyolali, Jawa Tengah bernama Ibrahim Al Abrar, berhasil menemukan celah keamanan di domain publik NASA.
Ibrahim Al Abrar, siswa SDN 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, mulai belajar coding secara otodidak sejak kelas 4 SD.
Ia bermula dari hobi bermain gim yang diarahkan ayahnya, Aminudin Salas, guru TKJ di SMK Negeri Kemusu, untuk belajar membuat gim sendiri.
Awal 2026, minatnya bergeser ke keamanan siber. Ibra hanya bermodal mini PC bekas seharga Rp2 juta serta belajar lewat YouTube dan AI, ia rutin menelusuri celah keamanan di berbagai situs, termasuk NASA.
Temuan dan Penghargaan
April 2026, Ibra menemukan kerentanan broken link hijacking pada domain publik NASA dan melaporkannya melalui Vulnerability Disclosure Policy (VDP) NASA di platform Bugcrowd.
Setelah diverifikasi, NASA mengirimkan Letter of Recognition (LOR) tertanggal 9 Juli 2026, sebuah penghargaan yang hanya diberikan untuk laporan tervalidasi berperingkat P1-P4.
Ibrahih dan Refleksi untuk Perguruan Tinggi
Kisah ini membuka ruang refleksi sekaligus peluang bagi dunia pendidikan tinggi Indonesia untuk lebih berinovasi.
Banyak program studi terkait keamanan siber sudah membekali mahasiswa dengan dasar keamanan siber yang kuat.
Ibra bisa menjadi dorongan tambahan agar porsi praktik langsung seperti vulnerability disclosure atau simulasi bug bounty semakin diperluas, sehingga mahasiswa terbiasa menerapkan ilmunya di lingkungan nyata sejak masa kuliah.
Ancaman dan teknik siber terus berkembang cepat. Semangat belajar mandiri seperti yang ditunjukkan Ibra mengikuti tutorial terbaru, memanfaatkan AI sebagai teman belajar bisa menjadi inspirasi bagi kampus untuk terus memperkaya materi ajar dengan perkembangan teknologi terkini.