Selasa, 18 Agustus 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN
Opini Berita Pilihan

Kisah Naskah Proklamasi yang Hampir Masuk Keranjang Sampah dan Loyalitas Wartawan BM Diah

36 tampilan 3 mnt baca Sumber: Humas UMI
Naskah proklamasi tulisan tangan Ir Soekarno (Arsip Nasional)

"Saya menyimpan naskah ini bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia sebagai bukti autentik perjuangan kemerdekaan kita." sebut BM Diah.

Ketika kita merayakan kemerdekaan, ingatan kolektif bangsa kerap tertuju pada dentuman suara Bung Karno membacakan teks Proklamasi. Namun, sedikit yang menyadari bahwa lembaran paling berharga yang menjadi bukti autentik peristiwa tersebut nyaris lenyap ditelan tempat sampah jika bukan karena naluri dan kesetiaan seorang jurnalis muda, Burhanuddin Mohammad Diah (BM Diah).

Dilansir dari berbagai sumber, Humas UMI merangkum beberapa fakta penting terkait kisah ini:

Subuh Kritis di Meja Mesin Tik

Menjelang dini hari pada 17 Agustus 1945, perumusan naskah kemerdekaan akhirnya rampung. Soekarno menuliskan draf naskah tersebut pada secarik kertas bergaris dengan coretan perbaikan di beberapa kata.

Setelah disepakati oleh para tokoh bangsa yang hadir, lembaran tulisan tangan itu diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketik rapi menggunakan mesin tik.

Begitu naskah bersih selesai diketik dan siap ditandatangani, fokus semua orang beralih ke naskah ketikan tersebut. Bagi sebagian besar orang di ruangan kala itu, naskah tulisan tangan Soekarno hanyalah draf kotor yang fungsinya sudah selesai. Secara spontan, kertas bersejarah itu diremas dan dibuang ke keranjang sampah di sudut ruangan.

Naluri Tajam Seorang Wartawan

Di ruangan yang penuh ketegangan itu, hadir BM Diah yang kala itu bekerja sebagai wartawan muda sekaligus perwakilan dari kalangan pemuda.

Ketika melihat gumpalan kertas tulisan tangan Bung Karno melayang ke tempat sampah, insting jurnalistik Diah langsung menyala. Baginya, coretan tangan sang Proklamator bukan sekadar draf bekas, melainkan rekam jejak autentik detik-detik lahirnya sebuah bangsa.

Tanpa menarik perhatian banyak orang, Diah melangkah mendekati keranjang sampah, memungut remasan kertas tersebut, lalu merapikannya dengan hati-hati sebelum melipat dan menyimpannya di dalam saku bajunya.

BACA JUGA:
Mengenal TAG INDONESIA EMAS, Skema Baru Penerimaan Maba UMI, Ayo Segera Daftar!
Lomba Karaoke, Hias Tumpeng, hingga Hias Ruangan Warnai Kemeriahan HUT ke-81 RI di UMI

Loyalitas dan Penjagaan Selama 47 Tahun

Tindakan penyelamatan itu baru permulaan dari sebuah pengabdian panjang. Menjaga dokumen rahasia di masa perang kemerdekaan bukanlah perkara mudah:

Selama masa revolusi fisik melawan agresi militer Belanda, Diah membawa dokumen tersebut ke mana pun ia pergi, menjaganya agar tidak rusak, basah, atau jatuh ke tangan penjajah.

Selama puluhan tahun, ia tidak pernah memperjualbelikan atau memanfaatkan naskah itu demi keuntungan pribadi.

Diah menyimpan naskah tersebut dalam buku agenda pribadinya selama hampir setengah abad dengan sangat hati-hati.

Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

Setelah 47 tahun berlalu dan kondisi bangsa dinilai telah stabil, BM Diah akhirnya memutuskan bahwa waktu untuk menyerahkan pusaka tersebut telah tiba.

Pada 29 Mei 1992, BM Diah secara resmi menyerahkan naskah asli tulisan tangan Bung Karno kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka, yang kemudian diteruskan ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk disimpan dan dirawat secara permanen dalam brankas khusus berstandar internasional.

"Saya menyimpan naskah ini bukan untuk diri saya sendiri, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia sebagai bukti autentik perjuangan kemerdekaan kita." sebut BM Diah.


Sumber: Pengakuan Andaryoko Wisnuprabu, tokoh pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) Supriyadi, (2008)

G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.