Rabu, 9 September 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN

#Pray for Kalimantan, Karhutla: 2348 Titik Panas dan 8750 Kasus Ispa, Masih Terus Meningkat?

65 tampilan 3 mnt baca Sumber: Humas UMI
Foto: Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK

Warga kini diwajibkan mengenakan masker medis saat keluar rumah, sementara sektor pendidikan dan transportasi turut terdampak oleh pekatnya asap. Selain menghanguskan lahan produktif, kobaran api juga merusak sejumlah kandang peternakan dan infrastruktur warga.

Kalimantan, umi.ac.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengepung Pulau Kalimantan dalam sepekan terakhir seiring memuncaknya musim kemarau panjang yang diperparah oleh anomali cuaca kering. Hingga Sabtu (22/8) siang, ribuan titik panas (hotspot) terdeteksi menyebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, memicu kabut asap pekat serta mengancam kesehatan masyarakat.

Memasuki awal Agustus 2026, minimnya curah hujan membuat vegetasi semak belukar dan hamparan lahan gambut mengering drastis, menciptakan kondisi yang sangat mudah tersulut api. Titik api mulai bermunculan pada pertengahan bulan akibat aktivitas pembukaan lahan untuk pertanian dan pembersihan vegetasi, yang kemudian menjalar tak terkendali.

BACA JUGA:
Eleven Kick Challenge Digelar di GOR UMI, WR III: Kampus Selalu Beri Ruang bagi Generasi Muda Kembangkan Potensi
Gerak Cepat di NTT, Tim Relawan UMI Berikan Layanan ke Penyintas di Dua Puskesmas

Dalam tiga hari terakhir, embusan angin kencang mempercepat perluasan kobaran api hingga di wilayah seperti Kotawaringin Timur dan Berau, lidah api dilaporkan mendekati kawasan permukiman warga. Tim Satgas gabungan yang berjibaku di lapangan menghadapi kendala berat karena bara terus menyala di bawah permukaan tanah gambut (ground fire) di tengah jarak pandang yang sangat terbatas.

Dampak dari bencana ini langsung dirasakan oleh warga sehari-hari. Wilayah Banjarbaru di Kalimantan Selatan dan Palangkaraya di Kalimantan Tengah diselimuti kabut asap tebal sejak pagi hari, membatasi jarak pandang pengguna jalan dan mengganggu aktivitas harian. Kualitas udara di sejumlah stasiun pemantau merosot ke level tidak sehat hingga berbahaya, yang memicu lonjakan ribuan pasien penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di fasilitas kesehatan setempat.

Warga kini diwajibkan mengenakan masker medis saat keluar rumah, sementara sektor pendidikan dan transportasi turut terdampak oleh pekatnya asap. Selain menghanguskan lahan produktif, kobaran api juga merusak sejumlah kandang peternakan dan infrastruktur warga di sekitar tapak kebakaran. Pemerintah daerah bersama BNPB kini menyiagakan operasi water bombing dan memperketat patroli darat untuk menekan kemunculan titik api baru di area konsesi maupun lahan milik masyarakat.

Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dialnsir Humas UMI per-Sabtu (22/8) pukul 14.15 WITA, mencatat total 2.348 titik panas berkepercayaan tinggi terkonsentrasi di tiga provinsi utama, dengan Kalimantan Barat menyumbang 1.120 titik, disusul Kalimantan Tengah 784 titik, dan Kalimantan Selatan 444 titik.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Kota Palangkaraya dan Banjarbaru menembus angka 320 PM2.5, masuk dalam kategori sangat berbahaya, sementara jarak pandang mendatar (horizontal visibility) di area terdampak turun drastis hingga di bawah 400 meter pada pukul 06.00 hingga 09.00 WITA.

Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan melaporkan akumulasi kasus ISPA melonjak drastis hingga 8.750 kasus dalam dua pekan terakhir, dengan kelompok rentan balita dan lansia mendominasi hingga 45 persen dari total kunjungan puskesmas.

Merespons kondisi kritis tersebut, BNPB mengerahkan 6 unit helikopter pengebom air (water bombing) berkapasitas 4.000 liter per sortie dan menyiapkan 12 ton garam (NaCl) untuk operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), mendampingi lebih dari 1.800 personel gabungan TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan yang terus melakukan pemadaman darat.

G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.