Jumat, 2 Oktober 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN

Pesan WR IV UMI untuk Maba Pekan Pesantren Gelombang V 2026: Gunakan AI untuk Bantu Berpikir, Bukan Gantikan Pikiran

81 tampilan 3 mnt baca Sumber: Humas UMI

Mahasiswa baru UMI diharapkan tidak hanya siap menghadapi proses akademik, tetapi juga memahami peran dan tanggung jawab keilmuan masing-masing dalam kehidupan masyarakat.

Pangkep, umi.ac.id – Sebanyak 531 mahasiswa baru Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengikuti Pekan Pesantren Mahasiswa Baru UMI Angkatan Lima di Pesantren Mahasiswa Darul Mukhlisin, Padanglampe, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Selasa (15/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 September 2026, menjadi bagian dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru sekaligus ruang pembekalan bagi generasi baru UMI sebelum memasuki kehidupan akademik di kampus.

Pekan Pesantren Mahasiswa Baru UMI Angkatan ke lima berasal dari tiga fakultas yakni Fakultas Teknik (FT), Fakultas Sastra Ilmu Komunikasi dan Pendidikan (FSIKP), serta Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang.

Mewakili Rektor, Wakil Rektor IV UMI Dr. KH, M Ishaq Shamad, MA, menekankan pentingnya mahasiswa mampu mengikuti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis, nilai moral, dan tanggung jawab sebagai insan akademik.

“AI harus ditempatkan sebagai alat yang membantu proses berpikir dan belajar, bukan sebagai pengganti pikiran manusia. Gunakan AI untuk membantu berpikir, bukan untuk menggantikan pikiran,” pesannya.

Pesan untuk Mahasiswa Fakultas Teknik

Kepada mahasiswa Fakultas Teknik, Dr. M Ishaq Shamad, mengingatkan bahwa penguasaan teknologi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab moral.

Ia berharap mahasiswa Teknik kelak tidak hanya menjadi tenaga profesional yang menguasai perhitungan dan teknologi, tetapi juga mampu mempertimbangkan dampak sosial dan kemanusiaan dari setiap keputusan yang diambil.

“Mahasiswa Fakultas Teknik, saya ingin kalian menjadi generasi yang mampu menguasai teknologi, tetapi tetap memiliki tanggung jawab moral. Teknologi yang kalian bangun harus memberikan kemaslahatan,” katanya.

Bahasa, Sastra, dan Komunikasi sebagai Kekuatan Peradaban

Sementara kepada mahasiswa Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan, WR IV UMI itu berpesan agar mereka memahami posisi strategis bahasa, sastra, literasi, dan komunikasi, serta pendidikan dalam kehidupan masyarakat.

“Jangan pernah menganggap bahasa dan sastra sebagai sesuatu yang sederhana. Bahasa adalah kekuatan peradaban sebab dengan bahasa, manusia membangun komunikasi. Dengan sastra, manusia membangun kepekaan. Dengan literasi, manusia membangun cara berpikir,” ujarnya.

Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial, ia juga mengingatkan mahasiswa agar memahami tanggung jawab di balik setiap informasi yang disampaikan kepada publik.

BACA JUGA:
Gelombang IV Pekan Pesantren Maba UMI, Ruang Pembentukan Leadership Mentality
Intip Serunya Outbound Pekan Pesantren Maba UMI 2026: Bangun Chemistry Lewat Experiential Learning

Karena itu, mahasiswa Ilmu Komunikasi dan bidang terkait diminta tidak menjadikan viralitas sebagai ukuran utama dalam menyampaikan informasi.

“Jadilah komunikator yang menyampaikan kebenaran, bukan sekadar menyampaikan sesuatu yang viral. Jadilah pendidik yang mencerdaskan, bukan sekadar mengajar. Jadilah pengguna media sosial yang beretika. Dan jadilah generasi yang mampu membangun komunikasi yang menyejukkan, mencerdaskan, dan mempersatukan,” katanya.

Pertanian dan Tantangan Pemulihan Lingkungan

Perhatian khusus juga diberikan kepada mahasiswa Fakultas Pertanian, terutama mereka yang akan mendalami bidang bioremediasi lahan tambang.

Isha Shamad, mengatakan, bidang tersebut memiliki posisi strategis di tengah kebutuhan pembangunan yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Kalian berada pada bidang yang sangat strategis. Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Pembangunan tidak boleh hanya berbicara tentang bagaimana mengambil sumber daya alam. Kita harus berbicara tentang bagaimana memulihkan lingkungan, menjaga keberlanjutan, dan mengembalikan manfaat alam bagi generasi yang akan datang,” katanya.

Ia menegaskan, bioremediasi tidak semata-mata berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab terhadap lingkungan dan masa depan.

G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.