Makassar, umi.ac.id - Pembentukan kesalehan individu tidak lagi cukup berhenti pada ritual pribadi. Di era disrupsi digital, keberagamaan Generasi Z dituntut bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang nyata dan membawa dampak langsung bagi masyarakat.
Pesan kunci tersebut mengemuka dalam Studi General 2026 bertajuk 'Menjadi Gen Z yang Berdampak: Transformasi Pendidikan, Integrasi Keislaman, dan Membangun Karakter di Era Disrupsi Teknologi' yang digelar di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Selasa (29/9/2026).
Acara ini menghadirkan narasumber, Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Dr. Aris Munandar, M.Pd. Ia menegaskan pentingnya pergeseran paradigma beragama di era digital.

Menurut mantan Rektor UNM dua periode ini, alur beragama harus dimulai dari pembentukan nilai, diwujudkan dalam perilaku, hingga membuahkan dampak sosial yang konkret.
"Beragama bukan hanya tentang apa yang dipercayai, tetapi juga tentang apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari," tegas Prof. Aris di hadapan para peserta.
Guna mewujudkan kesalehan sosial tersebut, Prof. Aris membedah tiga pilar utama yang melekat pada karakter Generasi Z dimulai dari Hyper-connected dimana segala sesuatu terhubung secara digital tanpa henti, di mana gawai telah menjadi perpanjangan dari identitas sosial.
"Kemudian ada Pragmatis dan Realistis, tumbuh di tengah dinamika ekonomi yang membentuk pandangan rasional terhadap karier dan finansial. Dan terakhir adalah Otentik, sangat menghargai kejujuran serta tegas menolak standar kesuksesan atau pencitraan palsu," jelasnya.
Ketiga pilar karakter ini, menurutnya, dapat diselaraskan secara harmonis dengan lima nilai inti keislaman untuk mendorong perubahan sosial yang masif:
Siddiq (Jujur) & Amanah (Bertanggung Jawab): Menjawab dahaga Gen Z akan keotentikan untuk membangun kepercayaan di tengah masyarakat.
BACA JUGA:
Sedih! Satu-satunya Gletser Tropis di Asia Tenggara: Menanti Kepunahan Salju Abadi Papua pada 2027
MUI Pusat Gandeng UMI Kembangkan Kesehatan Syariah di Fakultas Kedokteran dan RS Ibnu Sina
Tabayyun (Verifikasi Informasi): Menjadi benteng bagi karakter hyper-connected dalam membendung arus hoaks di dunia maya.
Ihsan (Kesempurnaan Karya) & Rahmah (Kepedulian): Mengarahkan sikap pragmatis Gen Z agar selalu menghasilkan karya berkualitas tinggi yang berlandaskan empati lingkungan.
Arah transformasi ini sejalan dengan pandangan pimpinan UMI. Mewakili Rektor, Wakil Rektor III Prof. Dr. H.M. Kamal Hidjaz, S.H., M.H., menyoroti pentingnya penguatan karakter Gen Z dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di tengah masifnya penerapan kecerdasan buatan (AI).

Senada dengan hal tersebut, Dekan FAI UMI Dr. H. Akhmad Syahid, M.Pd., menekankan bahwa tantangan utama era ini bukan lagi soal kemahiran teknis semata.
"Apa yang akan kita perbuat dari AI untuk masyarakat, bukan sekadar bisa menggunakannya," ujar Akhmad Syahid.
https://www.youtube.com/embed/q1BTT6Arkvo
Dipandu oleh Wakil Dekan III FAI UMI, Dr. Surani, S.Ag., M.Ag., sebagai moderator, forum ini mempertegas bahwa integrasi antara nilai keislaman dan keandalan teknologi adalah kunci utama agar Generasi Z tidak sekadar menjadi konsumen digital, melainkan aktor utama pembuat perubahan.
