Rabu, 9 September 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Catat Fakta Penting Ini

155 tampilan 3 mnt baca Sumber: Humas UMI
Gunung Anak Krakatau. Foto: Wikimedia Commons/Lord Mountbatten

Kemunculan Anak Krakatau ke permukaan pertama kali terkonfirmasi secara permanen pada awal tahun 1930, setelah aktivitas vulkanik bawah laut yang mulai terdeteksi sejak 1927

Gunung Anak Krakatau di wilayah Selat Sunda kembali erupsi hingga menghasilkan gemuruh dan lava fountain (lava air mancur). Status gunung masih Siaga (Level III) dan masyarakat diminta tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

Dilansir dari situs magma.esdm.go.id milik PVMBG, laporan disusun per enam jam dari pukul 00.00 sampai 06.00 WIB, Sabtu (5/9/2026). Cuaca dilaporkan berawan hingga mendung, dengan angin lemah hingga sedang ke arah barat laut.

"Pengamatan visual, Gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati," tulis pengamat gunung api Rioboniek Situmorang dalam laporannya.

BACA JUGA:
Uji Materil Diajukan Mahasiswa ‘Bye-bye Pasal Penghinaan Pemerintah di KUHP Baru’, Ayo Pahami!
Gemuruh Tepuk Tangan untuk Dwi: Merengkuh Gelar Magister dari Kursi Roda

Disampaikan pula bahwa erupsi berlangsung secara terus-menerus sejak Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga laporan dibuat pada Sabtu (5/9/2026).

"Kondisi terkini Gunung Anak Krakatau erupsi menerus, berlangsung sejak tanggal 04 September 2026 pukul 23:07 WIB hingga saat laporan ini dibuat," lanjutnya.

Selain itu, fenomena lava fountain atau lava air mancur terjadi di Gunung Anak Krakatau hingga suara gemuruh terdengar sampai ke Pos Pantau Pasauran, Kabupaten Serang.

Humas UMI merangkum sejumlah fakta penting tentang Gunung Anak Krakatau disadur dari berbagai sumber. Berikut daftarnya:

Jejak Kelahiran: Dari Bawah Laut Menembus Permukaan pada 1930

Kemunculan Anak Krakatau ke permukaan pertama kali terkonfirmasi secara permanen pada awal tahun 1930, setelah aktivitas vulkanik bawah laut mulai terdeteksi sejak 1927. Sejak saat itu, pulau berbatu basal tersebut terus membangun tubuhnya sendiri melalui tumpukan material erupsi magmatik yang intens.

Pertumbuhan Kilat dan Laboratorium Alami Ekologi Dunia

Sebelum tahun 2018, Anak Krakatau dikenal sebagai salah satu gunung api dengan pertumbuhan terpesat di dunia. Pertambahan tingginya rata-rata mencapai 4 hingga 6 meter per tahun. Selain aktivitas magmatiknya, pulau ini menjadi rujukan penting para ilmuwan global sebagai laboratorium suksesi ekologi alami, yakni studi mengenai proses kolonisasi flora, fauna, dan mikroorganisme di atas daratan baru yang semula steril tanpa campur tangan manusia.

Petaka Desember 2018: Longsor Bawah Laut Pemicu Tsunami Senyap

Namun, fase pertumbuhan cepat tersebut berbalik drastis pada penghujung tahun 2018. Tepat pada 22 Desember 2018, erupsi berkepanjangan memicu ketidakstabilan struktur lereng barat daya gunung.

Sekitar 64 hektare massa tubuh gunung runtuh ke laut, memicu tsunami senyap tanpa peringatan gempa tektonik awal yang menerjang pesisir pesisir Banten dan Lampung.

Rombak Morfologi: Puncak Terpangkas dan Siklus Baru Dimulai

Peristiwa kolaps tersebut merombak total morfologi Anak Krakatau. Ketinggian tubuh gunung yang sebelumnya menjulang sekitar 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) terpangkas drastis menjadi hanya sekitar 110 mdpl.

Keruntuhan itu juga mengubah kawah utama menjadi kawah terbuka yang bersentuhan langsung dengan air laut, membuka babak baru dalam siklus vulkanik gunung api legendaris tersebut.


Source:

Detik.com,

magma.esdm.go.id

G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.