Berabad-abad lamanya, mahkota putih Puncak Jaya di Pegunungan Jayawijaya berdiri teguh memikat para penjelajah dari berbagai belahan dunia. Perlombaan menaklukkan puncak berselimut es di atas garis khatulistiwa ini selalu menyimpan daya tarik tersendiri.
Namun, keajaiban alam unik di Tanah Papua tersebut kini tinggal menghitung hari menuju kepunahan total.
"Gletser telah berada di puncak itu selama berabad-abad. Menjadi saksi mata bagaimana lapisan es itu telah menyusut sungguh mencengangkan," tutur Klaus Thymann, penjelajah asal Denmark, dilansir dari laporan BBCIndonesia, Kamis (24/9/2026).

Klaus sengaja menginjakkan kaki di Puncak Carstensz demi mendokumentasikan dan membuat pemetaan tiga dimensi dari sisa-sisa gletser yang kian kritis.
Kekhawatiran para peneliti dan penjelajah kini dikonfirmasi oleh laporan ilmiah terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO). Satu-satunya gletser tropis di kawasan Asia Tenggara tersebut diperkirakan akan lenyap sepenuhnya pada rentang tahun 2026 hingga 2027.
Perangkap Panas di Puncak Khatulistiwa
Secara alami, es dan salju memiliki kemampuan tinggi memantulkan kembali radiasi sinar matahari ke atmosfer.
Namun, seiring melonjaknya emisi karbon global, tutupan es terus tergerus dan menyingkap permukaan batuan gelap di sekitarnya. Batuan tua ini justru menyerap radiasi matahari dalam jumlah besar dan memancarkan kembali gelombang panas ke sekelilingnya menciptakan efek 'oven' yang mempercepat pelelehan sisa es yang bertahan.
BACA JUGA:
Kisah Naskah Proklamasi yang Hampir Masuk Keranjang Sampah dan Loyalitas Wartawan BM Diah
MUI Pusat Gandeng UMI Kembangkan Kesehatan Syariah di Fakultas Kedokteran dan RS Ibnu Sina
Kondisi diperparah oleh anomali iklim akibat fenomena El Niño berulang serta peningkatan suhu permukaan laut Pasifik ke titik tertinggi.
Suhu udara di permukaan puncak kini konsisten berada di atas titik leleh Nol derajat Celcius, mematikan siklus pembentukan akumulasi salju baru secara total. Es yang tersisa menguap dan mencair tanpa pernah bisa memperbarui dirinya.

Akhir Babak Sejarah Iklim Purba
Proses kemunduran es di Papua tercatat sangat dramatis. Masuk ke dekade 2020-an, sisa es yang bertahan di Puncak Jaya hanyalah serpihan seluas kurang dari 0.1 km2, memicu fase akhir kepunahan di tahun 2026–2027.
Hilangnya salju abadi Papua bukan sekadar hilangnya lanskap estetis ikonik Nusantara, melainkan menjadi penanda paling nyata dari terakselerasinya krisis iklim global. Bersamaan dengan melelehnya gletser ini, dunia juga kehilangan ice core lapisan es purba yang menyimpan rekaman jejak atmosfer dan iklim bumi selama ribuan tahun yang kini musnah sebelum sempat tereksplorasi sepenuhnya.