Rabu, 9 September 2026 Makassar, Sulawesi Selatan
ID EN
Mahasiswa Berita Pilihan

Tak Bisa Melihat Toga, tapi Merasakan Bahagia: Kisah Haru Mahasiswa Difabel FSIKP UMI Meraih Cumlaude

49 tampilan 3 mnt baca Sumber: Humas UMI
Imanuddin, penyandang disabilitas tunanetra dari Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI

Di atas panggung wisuda, Imanuddin telah menyelesaikan satu babak penting dalam hidupnya. Dari sana pula, ia memberi pelajaran nyata bagi semua yang hadir.

Makassar, umi.ac.id - Riuh tepuk tangan membahana di seluruh sudut aula wisuda Universitas Muslim Indonesia (UMI). Namun, bagi seorang pemuda bernama Imanuddin, momen bersejarah itu tidak hadir melalui warna-warni jubah atau kilatan lampu kamera, melainkan lewat getaran suara dan rasa hangat yang membuncah di dada.

Sebagai seorang penyandang disabilitas tunanetra dari Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) UMI, ia berdiri sejajar dan penuh kebanggaan bersama ribuan wisudawan lainnya.

“Saya memang tidak bisa melihat toga yang saya kenakan dan senyuman orang tua saya, tapi saya bisa merasakan dan mendengar tepuk tangan semuanya,” tutur Imanuddin penuh haru di hadapan para hadirin saat prosesi Wisuda UMI Periode II tahun 2026 di Claro Hotel, Makassar, Kamis (27/8/2026).

Berdamai dengan Keterbatasan, Berdiri di Panggung Kehormatan

Langkah kakinya menuju panggung kehormatan bukanlah perjalanan yang singkat dan mudah. Selama empat tahun mengarungi bangku perkuliahan, hari-harinya diisi oleh ikhtiar tanpa henti mulai dari menyimak rekaman materi perkuliahan dengan penuh konsentrasi, meraba baris demi baris teks, hingga berjam-jam.

Ia terus berkutat di depan perangkat pembaca layar (screen reader) untuk menuntaskan skripsi secara mandiri. Di saat banyak orang mungkin menyerah pada keterbatasan, Imanuddin justru menjadikannya sebagai cambuk untuk terus melaju membuktikan kapasitas diri.

Keteguhan luar biasa itu akhirnya berbuah manis. Keterbatasan fisik terbukti tak pernah mampu membatasi visinya tentang masa depan.

BACA JUGA:
Hampir 100 Beasiswa dari 68 Negara Dibuka, AI Mulai Jadi Teman Pemburu Beasiswa, Begini Caranya!
Ditinggal Duka, Ekonomi Pas-pasan: Parabayu Tetap Rampungkan Kuliah di UMI dengan 30 Juz di Dada

Kerja kerasnya terbayar tuntas saat namanya diumumkan meraih predikat kelulusan dengan pujian (cumlaude) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,81, sebuah capaian prestisius yang diraih murni dari tetesan keringat dan kegigihan intelektualnya..

Kelulusan ini bukanlah garis akhir, melainkan gerbang awal bagi misi hidupnya yang baru. Imanuddin kini memantapkan langkah untuk membangun ruang belajar khusus bagi anak-anak penyandang disabilitas, memastikan generasi berikutnya memiliki ruang yang sama untuk berani bermimpi dan menaklukkan dunia pendidikan tanpa rasa rendah diri.

Komitmen Nyata Kampus: Menjaga Asa hingga Garis Akhir

Semangat inklusivitas dan keberpihakan pada pendidikan juga tercermin nyata dalam wisuda kali ini. UMI menyalurkan dana sebesar Rp1,5 miliar melalui Program Beasiswa Afirmasi kepada 121 mahasiswa yang berada di tahap akhir studi namun terancam putus kuliah akibat himpitan ekonomi, persoalan keluarga, maupun masalah kesehatan.

Langkah ini menegaskan prinsip UMI untuk tidak membiarkan satu pun mahasiswanya terhenti tepat di langkah terakhir perjuangan mereka.

Rektor UMI, Prof. Dr. H. Hambali Thalib, SH, MH, menyampaikan pesan mendalam yang menyimpulkan esensi dari perayaan wisuda ini jika Cumlaude adalah prestasi akademik. Berdampak adalah prestasi kehidupan

“Di atas panggung wisuda, Imanuddin telah menyelesaikan satu babak penting dalam hidupnya. Dari sana pula, ia memberi pelajaran nyata bagi semua yang hadir: bahwa untuk melihat dan menaklukkan masa depan yang terang, keteguhan hati jauh lebih berkuasa daripada sekadar indra penglihatan,” tutupnya.
G
Gunawan S
Staff Humas.
Komentar (0)

Langganan Newsletter

Dapatkan berita terbaru UMI langsung di email Anda.