Makassar, umi.ac.id - Perguruan tinggi tidak bisa lagi hanya berperan sebagai lembaga penyimpan dan penyebar pengetahuan di tengah percepatan disrupsi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan ini disampaikan CEO Tribun Network, Dahlan Dahi, dalam paparannya bertajuk "Internet, AI dan Collective Imagination" pada UMI Executive Strategic Summit 2026 di auditorium Al Jibra UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Sabtu (1/8/2026).
"Universities are no longer just knowledge institutions. They must become imagination institutions," ujar Dahlan di hadapan jajaran pimpinan dan sivitas akademika UMI, saat menjelaskan tentang AI.
Dahlan membuka presentasinya dengan mengutip pernyataan kapten Timnas Spanyol, Rodri, soal keberanian mengejar kemenangan yang melebihi rasa takut akan kekalahan, sebuah analogi yang menurutnya relevan dengan sikap yang perlu diambil institusi pendidikan dalam menghadapi transformasi teknologi.
Kecepatan Adaptasi Semakin Menyempit
Dalam penjelasannnya, Dahlan memaparkan data historis kecepatan adopsi teknologi informasi. Ia mencontohkan, industri surat kabar membutuhkan waktu 393 tahun untuk membangun pola distribusi, penentuan harga berita, dan kontrol iklan sejak mesin cetak ditemukan pada 1450, sebelum akhirnya diguncang oleh kehadiran Google.
Sebagai pembanding, Dahlan menyebut platform seperti Facebook, YouTube, dan Twitter hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh tahun untuk mengubah wajah internet dari mesin pencari (search) menjadi umpan konten (feed). Bahkan ChatGPT, kata dia, hanya butuh enam tahun sejak kemunculan TikTok untuk kembali mengubah cara masyarakat berinteraksi dengan internet dari feed menjadi percakapan (chat).
"Sifat tantangannya adalah perubahan yang sangat cepat," kata Dahlan.
Data Nyata: Dari Kasus Hukum hingga Sentimen Kampus
Sebagai bukti konkret kapabilitas AI dalam mengolah informasi, Dahlan menampilkan hasil kerja Tribun Reader's Insight Service, layanan analitik data milik Tribun Network yang memetakan jaringan relasi antarentitas (entity relationship) serta sentimen pemberitaan berbasis lokasi (hyperlocal sentiment).
Yang menarik perhatian audiens, Dahlan turut memaparkan analisis serupa terhadap UMI. Data menunjukkan Kota Makassar menjadi wilayah dengan cakupan pemberitaan tertinggi terkait kampus tersebut, dengan Rektor UMI, Hambali Thalib, tercatat sebagai tokoh yang paling banyak diberitakan dalam konteks institusi tersebut.
Kerangka Strategi: dari Visi hingga Eksekusi
Dahlan turut memaparkan kerangka kerja transformasi organisasi yang menurutnya relevan diterapkan institusi pendidikan dalam merespons perubahan ini. Kerangka tersebut dimulai dari penetapan visi memahami pergeseran pada sisi konten dan distribusi informasi yang dirumuskannya dalam frasa "Mata Lokal Menjangkau Indonesia".
Visi itu kemudian diturunkan menjadi strategi berprinsip "beradaptasi, bukan melawan", dengan penekanan pada keseimbangan antara kecepatan dan kedalaman analisis. Pada tataran taktis, Dahlan menyarankan pendekatan bertahap: memulai dari purwarupa terbatas (proof of concept) sebelum dieskalasi ke skala lebih luas.
"Aspek yang perlu dibenahi organisasi dalam tahap eksekusi, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, indikator kinerja yang mengukur proses sekaligus hasil, hingga pembentukan budaya kerja berbasis data," jelasnya.
Mengakui Risiko AI
Meski menyoroti besarnya potensi AI, Dahlan tidak menutup mata terhadap risikonya. Ia menyebut lima tantangan utama yang masih membayangi teknologi ini termasuk bagi perguruan tinggi yakni halusinasi, bias, minimnya transparansi, sulitnya kontrol, serta persoalan penyelarasan (alignment) antara sistem AI dengan nilai-nilai manusia.
"Karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara kecerdasan manusia (human intelligence) dan kecerdasan mesin (machine intelligence), bukan menggantikan salah satunya secara penuh," bebernya.
Manusia, Bukan Teknologi, yang Menciptakan Masa Depan
Dahlan menutup presentasinya dengan pesan reflektif bahwa teknologi hanya berfungsi memperluas pengetahuan kolektif, sementara yang benar-benar mengubah pengetahuan itu menjadi masa depan adalah imajinasi kolektif manusia kemudian dieksekusi.
"Humans — not technology — create the future," tegasnya, sembari mengajak seluruh elemen UMI untuk berani mengambil langkah konkret dalam merespons era kecerdasan buatan, alih-alih hanya menjadi penonton dari perubahan yang tengah berlangsung.