Makassar, umi.ac.id - Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali mempertegas komitmennya dalam menghadirkan pendidikan teknik yang relevan dengan kebutuhan zaman, tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi juga adaptif terhadap perubahan regulasi, perkembangan teknologi, dan tuntutan dunia industri masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Pemutakhiran Kurikulum dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 2 Fakultas Teknologi Industri UMI, Senin (14/9/2026).
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang memiliki pengalaman dan reputasi di bidang pengembangan kurikulum serta penjaminan mutu pendidikan tinggi, yakni Prof. Dr. Ir. Elisa Kusrini, M.T., CPIM., CSCP., SCOR-P dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII), serta Prof. Dr. Ir. Lamatinulu, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng. dari UMI.

Kegiatan tersebut diikuti oleh dosen Program Studi Teknik Industri jenjang sarjana dan magister, pengelola Program Studi Program Profesi Insinyur, serta sejumlah alumni yang bergabung secara daring untuk memberikan masukan terhadap arah pengembangan kurikulum.
Ketua Program Studi Teknik Industri UMI, Ir. Andi Pawennari, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa pemutakhiran kurikulum dan RPS bukan sekadar pemenuhan kewajiban akreditasi, melainkan cara program studi memastikan penyelenggaraan pendidikan berjalan pada jalur yang tepat.
“Pemutakhiran ini kami lakukan agar Teknik Industri UMI tetap berada pada jalur yang benar. Kurikulum dan RPS adalah instrumen kami untuk memastikan lulusan benar-benar mencapai capaian pembelajaran yang kami janjikan kepada masyarakat dan dunia kerja,” ujarnya.
Menurut Ir. Andi Pawennari, penyeragaman sistem penilaian antarmata kuliah menjadi agenda mendesak yang akan dirumuskan bersama, sekaligus menyelaraskan hasil kongres Badan Kerja Sama Penyelenggara Pendidikan Tinggi Teknik Industri yang menjadi rujukan nasional keilmuan teknik industri.
BACA JUGA:
Kampus Bereputasi Internasional, Maba FK dan FKM UMI Didorong Miliki Kompetensi Global Berkarakter Islami
FEB UMI-UNUSIA Tandatangani IA, Perkuat Sembilan Bidang Kolaborasi
Dalam pemaparannya, Prof. Elisa Kusrini menjelaskan bahwa kurikulum teknik industri hari ini dihadapkan pada dua arus utama yang bergerak sama cepatnya, yaitu keberlanjutan dan digitalisasi. Keduanya menuntut integrasi ke dalam seluruh bahan kajian, bukan berdiri sendiri sebagai mata kuliah terpisah.
“Tuntutan keberlanjutan hari ini datang dari regulasi, sehingga perusahaan mau tidak mau harus melaporkannya kepada publik. Pertanyaannya, apakah lulusan kita sudah cukup percaya diri untuk kita lepas ke dunia industri dengan bekal keberlanjutan dan digitalisasi,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kekhasan visi keilmuan yang diturunkan secara konsisten ke profil lulusan, capaian pembelajaran, kelompok keahlian, laboratorium, hingga penelitian dan pengabdian dosen. Menurutnya, rekam jejak keilmuan yang tertata menjadi penentu keberhasilan pengembangan karier akademik dosen.
Prof. Elisa Kusrini turut berbagi praktik baik penguatan relevansi industri melalui skema hibah dosen praktisi, penulisan book chapter oleh mahasiswa, penyelenggaraan kompetisi ilmiah yang dirancang sejak awal, serta kolaborasi riset dan publikasi internasional yang terbuka untuk dikembangkan bersama FTI UMI.
Sementara itu, Prof. Lamatinulu memaparkan implikasi perubahan regulasi terhadap desain RPS, mulai dari Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 yang kemudian diperbarui menjadi Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2026.

“Secara format, RPS Teknik Industri sudah memenuhi standar. Yang perlu kita cermati bersama adalah bagaimana menginternalisasikan student center learning, karena tanpa itu RPS kita belum bisa disebut berbasis outcome based education,” tegasnya.
Ia mendorong penggunaan pembelajaran berbasis kasus, pembelajaran berbasis proyek, dan gamifikasi, serta pemanfaatan sistem manajemen pembelajaran Kalam untuk memperkuat perkuliahan luring dan daring. Peran dosen pun diarahkan menjadi fasilitator, inovator, motivator, dan inspirator.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Dr. Ir. Ahmad Padhil, S.T., M.T., IPM., AER berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta, di antaranya dari Dr. Taufik Nur, S.T., M.T., IPU. mengenai kekhasan visi keilmuan dan tolok ukur daya saing internasional dalam penilaian akreditasi.
Diskusi berkembang pada isu relevansi profil lulusan untuk lima tahun ke depan, penguatan ciri khas program studi, mekanisme pelibatan dosen praktisi dari industri, hingga peluang penguatan kemampuan bahasa asing sebagai nilai tambah lulusan di kawasan Indonesia Timur.
Sebagai tindak lanjut, Program Studi Teknik Industri akan membentuk tim lokakarya kurikulum yang bertugas meninjau kembali capaian pembelajaran lulusan melalui tracer study, dengan melibatkan alumni, pengguna lulusan, dan asosiasi keilmuan secara bertahap.