Makassar, umi.ac.id - Ketua Pembina Yayasan Wakaf UMI, Prof. Dr. H. Mansyur Ramly, SE, M.Si, menegaskan bahwa UMI harus mengambil posisi sebagai pemimpin perubahan, bukan sekadar mengikuti perkembangan yang terjadi.
"Dalam perubahan, kita tidak boleh menjadi follower, tetapi menjadi leader," tegas Prof Mansyur Ramly saat menjadi narasumber dalam panel session UMI Executive Summit di auditorium Al Jibra UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Sabtu (1/8/2026).
Menurutnya, transformasi menuju UMI 2030 tidak cukup dijalankan oleh jajaran pimpinan universitas semata. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh peran aktif sivitas akademika sebagai ujung tombak yang berhadapan langsung dengan proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
"Transformasi tidak bisa hanya di tingkat pimpinan. Di ruang kelas, di laboratorium, di pengabdian, dosen dan mahasiswa ujung tombaknya," lanjutnya.
Prof. Mansyur menambahkan, seluruh proses transformasi tersebut harus dibangun dalam sebuah sistem yang terintegrasi sehingga setiap unsur di lingkungan UMI dapat bergerak secara sinergis dan memberikan kontribusi optimal terhadap pencapaian visi UMI 2030.
Empat Pilar Transformasi
Untuk mewujudkan Tarnsformasi UMI 2030, dirumuskan empat prinsip yang harus dipegang setiap sivitas akademika, yang diringkas dalam slogan "Satu Data, Satu Arah, Satu Kecepatan, Satu Peradaban."
Pertama, Satu Data. Dosen dituntut melek data, mulai dari data mahasiswa, data riset, hingga data luaran akademik. Sistem seperti SISTER, SINTA, dan PDDIKTI harus dikelola secara tertib, sebab data yang valid menjadi dasar bagi kebijakan kampus yang tepat sasaran.
Kedua, Satu Arah. Seluruh mata kuliah, penelitian, dan pengabdian dosen diharapkan mengerucut pada visi besar UMI 2030. Rencana Pembelajaran Semester (RPS), bahan ajar, hingga topik penelitian harus selaras dengan tantangan zaman sekaligus nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas kampus.
Ketiga, Satu Kecepatan. Budaya kerja kolaboratif menjadi kunci berikutnya. Publikasi ilmiah didorong untuk lebih cepat, pengabdian masyarakat lebih responsif, dan proses pembelajaran lebih adaptif. Dihimbau bergerak bersama sebagai satu kesatuan, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Keempat, Satu Peradaban. Ini disebut sebagai "rumahnya UMI", yaitu filosofi bahwa peran dosen tidak berhenti pada transfer ilmu pengetahuan semata, tetapi turut membangun peradaban dengan melahirkan lulusan yang cerdas, berakhlak, dan menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Dari "Saya" Menjadi "Kita"
Transformasi menuju UMI 2030 hanya akan berhasil apabila setiap sivitas akademika menempatkan agenda ini sebagai tanggung jawab bersama, bergeser dari cara pandang individual "saya" menuju kolektif "kita", serta dari orientasi "program studi" menuju semangat besar "UMI".
“Semangat tersebut dirangkum dalam sebuah seruan bersama bagi seluruh civitas akademika UMI, mulai dari kelas kita, untuk UMI 2030," tutupnya.