Makassar, umi.ac.id - Transformasi digital yang berlangsung cepat memaksa dua institusi penting perguruan tinggi dan industri pers untuk saling bersinergi memperkuat literasi data di masyarakat.
Pandangan ini mengemuka dalam diskusi publik Puncak Milad ke 28 IJTI Sulsel bertajuk "Krisis Ekosistem Pers di Era Disrupsi Digital", yang digelar di Taman Firdaus Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Sabtu (8/8/2026).
Asisten Wakil Rektor III UMI, Dr. Andi Surahman Batara, SKM, M.Kes, menegaskan, tugas perguruan tinggi kini tidak lagi cukup berhenti pada pencetakan lulusan secara akademik. Di tengah banjir informasi digital yang sulit diverifikasi.
"Kampus dituntut membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir kritis dan kecakapan membedakan fakta dari opini sebuah kompetensi yang menjadi fondasi literasi data," jelasnya.
Argumen ini semakin relevan mengingat pola konsumsi informasi masyarakat telah bergeser signifikan ke platform digital, di mana kecepatan distribusi sering kali mengalahkan akurasi.
"Tanpa kemampuan analisis data yang memadai, publik rentan terpapar misinformasi yang dikemas menyerupai fakta," ungkap alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UMI itu.

Jurnalisme sebagai Jembatan Data Akademik ke Publik
Salah satu argumen sentral yang disampaikan Andi Surahman adalah pentingnya jurnalisme data sebagai penerjemah hasil riset ilmiah menjadi informasi yang dapat diakses masyarakat luas.
Selama ini, temuan-temuan akademik cenderung terkurung dalam jurnal ilmiah dengan bahasa teknis yang hanya dipahami kalangan terbatas sebuah kesenjangan yang menghambat pemanfaatan data riset untuk kepentingan publik.
"Di sinilah jurnalis memainkan peran strategis: mengolah data mentah hasil penelitian menjadi narasi yang komunikatif tanpa mengorbankan validitas ilmiahnya. Fungsi ini menuntut jurnalis tidak sekadar menulis, tetapi juga memiliki kapasitas membaca, memverifikasi, dan mengontekstualisasikan data secara akurat—kompetensi yang kian krusial di era post-truth," tegasnya.
Kolaborasi antara kampus sebagai produsen pengetahuan dan pers sebagai distributor informasi, menurut Surahman, menjadi kunci membangun ekosistem informasi publik yang sehat. Validitas data harus tetap menjadi acuan utama di setiap tahap proses ini, mulai dari riset hingga pemberitaan.
BACA JUGA:
Menyusuri Jejak, Ketika Wajo dan Bone Bicara tentang Singapura oleh Seorang Pelaut dan Pedagang Bugis bernama Daeng Paduppa
Raksasa Benua Merah VS Benua Biru di Piala Dunia 2026, Begini Fakta-fakta Menarik Argentina dan Spanyol
Tekanan Ekonomi dan Tuntutan Adaptasi Teknologi
Dari sisi industri, Ketua IJTI Pengda Sulsel, Andi Muhammad Sardi, menyoroti tantangan struktural yang dihadapi pers akibat disrupsi teknologi. Pergeseran belanja iklan ke platform digital telah mengikis sumber pendapatan konvensional media.
"Sementara distribusi informasi kini bergerak dengan kecepatan yang jauh melampaui kapasitas produksi jurnalistik tradisional," tuturnya.
Kondisi ini menciptakan paradoks yang mengkhawatirkan, jurnalis dituntut memproduksi konten lebih cepat dan lebih banyak untuk bersaing di ruang digital, namun tidak diimbangi peningkatan kesejahteraan maupun perlindungan kerja yang memadai.
"Tekanan ganda ekonomi dan operasional ini berpotensi menurunkan kualitas jurnalisme jika tidak diantisipasi dengan strategi adaptasi yang tepat, termasuk penguatan kapasitas jurnalis dalam mengolah data dan memanfaatkan teknologi verifikasi informasi," tutupnya.